Apa Pengertian dan Bagaimana Cara Membayar Zakat Profesi?

zakat profesi

Zakat profesi merupakan salah satu bagian dari zakat maal, yaitu zakat yang juga sering disebut dengan zakat pendapatan ini merupakan zakat dari harta benda yang dimiliki apabila pendapatan atau penghasilannya telah mencapai nisab. Berdasarkan QS Al-Baqarah ayat 267 menjadi dasar bahwa usaha apa saja yang dilakukan oleh seorang Muslim maka ia wajib menginfakkan atau menzakati sebagian di antaranya apabila telah mencapai nishab atau batas minimum pengenaan zakat, dengan catat usaha yang dilakukan adalah yang halal atau baik menurut hukum agama.

Lalu bagaimanakah cara membayar zakat untuk profesi? Berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas mengenai seorang laki-laki yang mendapatkan penghasilan bahwasanya ia mengeluarkan zakat pada hari ia memperolehnya. Abu Ubaid juga meriwayatkan bahwasanya Umar bin Abdul Aziz memberikan upah pekerjanya serta mengambil zakatnya.

Kemudian timbul pertanyaan bagaimana cara membayar zakat profesi itu sendiri? Sebelum membahas cara perhitungannya, alangkah lebih baik jika kita mengetahui nishabnya terlebih dahulu. Ada beberapa pendapat di kalangan para ulama:

• Menganalogikan zakat profesi secara mutlak pada zakat hasil pertanian, baik mengenai nishab maupun kadar zakat. Dengan demikian maka diambil kesimpulan, nishab zakat profesi setara dengan 653 kg beras dengan kadar 5% setiap kali menerimanya.
• Menganalogikan zakat profesi seperti zakat perniagaan atau zakat emas/perak. Nishabnya adalah 85 gram emas dengan kadar zakat sebesar 2,5% setiap kali menerima penghasilan.
• Menganalogikan nishab zakat profesi atau penghasilan seperti hasil pertanian yaitu senilai 653 kg beras namun kadar zakatnya disamakan dengan kadar zakat emas atau perak yakni 2,5%.

Hal tersebut berdasarkan qiyas atas syabah (kemiripan) terhadap karakteristik dari harta zakat yang sudah ada yakni model memperoleh penghasilan dari profesi mirip dengan panen hasil pertanian atau model wujud harta yang diterima sebagai penghasilan atau gaji berupa uang. Oleh sebab itu bentuk harta seperti ini dapat disamakan (diqiyaskan) dengan zakat maal harta benda (simpanan atau kekayaan). Berdasarkan pada harta zakar yang harus ditunaikan yaitu 2,5%. Pendapat yang ketiga inilah yang diambil sebagai acuan perhitungan zakat profesi.

Mashlahah bagi muzakki (orang yang menunaikan zakat) apabila dianalogikan seperti hasil pertanian, baik nishab maupun kadarnya, namun hal ini akan dapat memberatkan muzakki karena kadarnya adalah 5%. Namun jika dianalogikan seperti zakat emas maka hal ini bisa jadi akan kurang berpihak pada mustahik (orang yang menerima zakat) karena tingginya nishab dapat mengurangi jumlah orang berpenghasilan yang mencapai nishab. Sehingga sama saja akan banyak orang yang tidak berzakat. Oleh karena itu, pendapat yang ketiga merupakan jalan tengah yang adil bagi muzakki maupun bagi mustahik. Wallahu a’alam bisshawwab.